Namanya Siti Hardianti Darma Pertiwi, biasa dipanggil Anti. Dia berasal dari kota kecil di Sulawesi Selatan, yang biasa dikenal dengan sebutan kota sutera, yaitu Sengkang, Kabupaten Wajo. Telah 8 tahun dia meninggalkan tempat kelahirannya tersebut dan bolak-balik Makassar-Sengkang demi kepentingan pendidikan dan pekerjaan.
Anti merupakan anak pertama dari 6 saudari dan cucu pertama dari 17 bersepupu. Takdir itu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, pengayom, berani mencoba, dan suka belajar. Menurutnya, dia harus bisa mencoba segala hal karena dia yang menjadi tumpuan untuk adik-adiknya, tempat belajar banyak hal. Realitas itu pula membuatnya menjadi orang yang humble, mudah bergaul, easy going karena dia menganggap bahwa suatu saat dia yang akan menjadi orang yang dituakan digenerasi saudara dan sepupunya nanti, gerbang pembuka untuk berkenalan dengan rumpun keluarga yang lain, dan peran itu membutuhkan orang yang mudah membuka diri.
Di usianya yang menginjak seperempat abad itu, menurutnya masih banyak pencapaian yang belum dia raih meskipun telah banyak tempat yang telah dia kunjungi dengan sedikit kenekatan. Dia memang suka mengunjungi tempat baru dan bertemu orang-orang baru. Menurutnya, setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap waktu adalah jam pelajaran. Melalui perjalanan-perjalanan itu, dia telah bisa mengenali diri sendiri, mengenali apa kelebihan dan kelemahannya.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Hampir 4 bulan selama tahun pandemi ini, saya bersama lingkaran Guardians of Peace KITA Bhinneka. Saya percaya setiap lingkaran yang kita masuki akan memiliki dampak pada diri kita, entah positif ataupun negatif yang sebenarnya tergantung dari kita bagaimana memaknainya. Kataku pada gambar di atas bahwa "hari ini adalah perwujudan dari doa-doa kita.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Tidak pernah terbayangkan nama saya ada di salah satu dari kotak cantik (bukan piring cantik) yang tertempel di dinding putih itu. Bagiku, sebuah tanggungjawab yang besar. Peace Leadership Class Akademi KITA dimulai dengan materi pertama, membahas burung camar (seagull) yang bernama Jonathan.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Pekan kemarin kembali lagi dengan aktivitas yg menjadi salah satu hal paling ditunggu setiap pekan, Peace Leadership Class Akademi KITA. Mengapa? Karena ada banyak hal baru yg dipelajari, yg dimaknai, dan ada banyak kepala yang memiliki pengalaman masing-masing yg siap dibagi. Self interest adalah salah satu komponen.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Menitipkan mimpi. Sudah satu tahun lebih dia memperjuangkan mimpinya, dalam dua kali, dia ditakdirkan utk menitipkan mimpi yang tertunda utk digapai kepada teman2nya yg ditakdirkan memiliki mimpi itu. Namun, dikali ketiga ini, dia memilih utk melepaskan mimpi itu demi birul walidain.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Saya tidak mengikuti materi ini saat PLC sedang berlangsung (online, dampak dari physical distancing) karena saat itu keponakan pertama saya sedang diaqiqah. Menyesal? Iya (awalnya). Namun, saya percaya setiap kejadian baik/buruk itu adalah karena ketetapanNya dan pasti ada makna/pesan yg ingin Tuhan sampaikan ke saya dari kejadian tersebut. (awareness).
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Pada tahun 2017 saya pernah melakukan perjalanan ke NTB sambil pengabdian. Suatu ketika di lokasi pengabdian, ada seorang warga lokal yang bertanya kepada saya, mengapa mau turun ke lapangan (kerja sosial yang turun ke masyarakat) dengan busana syar'i yg seperti ini ? Beliau bertanya begitu karena pahamnya orang-orang yg penampilannya seperti saya, jarang/tidak turun ke lapangan. Begitulah ceritanya saya pernah jadi korban stereotype.
Dialektika Perang dan Perdamaian Abadi
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Awal melihat judul PLC kali ini, waah bakalan berat nih pembahasan. Pikirku, bagaimana dua pihak yang sedang berperang berdialektika dan mencapai perdamaian abadi. Ternyata, setelah mengikutinya, narasi-narasi tentang "tidak selamanya buruk itu, buruk", "berprasangka baik pada Tuhan", dan "masalah akan membuatmu..."
Family, Community, Social Resilience
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Di refleksi PLC sebelumnya, saya memention resilience sebagai bagian dari kemampuan dalam diri untuk beradaptasi secara positif terhadap pertentangan yang dihadapi. (agar lebih mudah dipahami, )nah ternyata resilience dapat di kategorikan ke dalam bagian-bagian kehidupan kita, ke keluarga, ke masyarakat, dan ke lingkungan sosial pertemanan kita. Family Resilience. Setiap keluarga pasti pernah mengalami pertentangan/masalah, kebanyakan mungkin masalah ekonomi, bencana yang tiba-tiba.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Sepulang dari outdoor class kemarin, kita diberikan misi perdamaian. Setelah menganalisis potensi diri dari masing-masing guardian, kita merumuskan kira-kira apa yang bisa kita lakukan terkait perdamaian dengan memanfaatkan potensi diri itu. Ternyata, ada teorinya, ada metodenya.
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Mendefinisikan cinta memang tidak mudah. Apa itu cinta? apakah peduli? rela berkorban? saling menerima? menghargai? Lalu mengapa harus ada kata cinta jika bisa dibahasakan oleh kata lain? atau apa yang mengindikatorinya sehingga bisa disebut cinta? Kapan kita dikatakan mencintai?Ketika kita merindu. Iya, rindu adalah indikatornya. Dalam setiap hal yang mengatasnamakan cinta, adakah yang...
Oleh: Siti Hardianti Darma Pertiwi
Sesi PLC kali ini yang dibawakan oleh Kak Therry dibuka dengan membahas filsafat. Materi ini berhasil membangunkan memori masa lalu saya saat menjalani hidup selama 4 tahun di lembaga internal kampus. Hampir tiap saat kami membahas filsafat ilmu yang diaplikasikan pada Budaya Ilmiah : membaca, menulis, berdiskusi. Pada saat itu kesadaran saya akan budaya ilmiah tidak sebesar saat ini. Jadi mungkin saya melaluinya tanpa menjiwainya. Namun saya bersyukur, karena saya hari ini adalah saya di masa lalu, saat ini saya sadar...