Kampus Tangguh adalah inisiatif KITA Bhinneka untuk memperkuat resiliensi komunitas akademik dalam menghadapi berbagai bentuk kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Inisiatif ini lahir dari kenyataan bahwa kasus kekerasan di perguruan tinggi terus menjadi perhatian serius. Secara nasional, jumlah korban kekerasan di lingkungan pendidikan tercatat sebanyak 12.416 korban sepanjang tahun 2024 (Kemendikbudristek RI), meningkat tajam dari 2.900 kasus yang tercatat Badan Pusat Statistik pada 2021. Di Sulawesi Selatan, Makassar tercatat sebagai kontributor terbesar konflik kekerasan berbasis identitas di provinsi dengan indeks kekerasan tertinggi di Indonesia (SNPK The Habibie Center, 2015), mulai dari konflik antar kelompok mahasiswa, kelompok etnis/kedaerahan, hingga konflik antar domisili.
Riset desk research KITA Bhinneka Tunggal Ika (2023) mencatat 32 kasus kekerasan di kampus-kampus Makassar sepanjang 2018-2023, meliputi tawuran, kekerasan dalam pengaderan, kekerasan seksual, bullying, dan diskriminasi, dengan tawuran dan kekerasan pengaderan sebagai kasus paling dominan. Tercatat pula dua mahasiswa yang diberitakan meninggal akibat kekerasan dalam kegiatan pengaderan. Kasus-kasus ini tersebar di lima universitas besar di Makassar: UNM (30%), UNHAS (24%), UINAM (24%), Unismuh (19%), dan UMI (3%).
Berangkat dari kondisi tersebut, melalui pendekatan partisipatif dan kolaborasi dengan pihak kampus serta organisasi kemahasiswaan, Kampus Tangguh mendorong terciptanya budaya damai, aman, dan inklusif yang berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi. Sebagai langkah awal, program ini dijalankan dalam bentuk proyek pilot di Universitas Hasanuddin (Unhas), sebelum direplikasi dan diperluas ke universitas-universitas lain di Kota Makassar.
• Pengkajian universitas
• Diseminasi penelitian
• Pendekatan pemangku kepentingan
• Forum Community Score Card
• Forum Participation Action Research
• Lokakarya dan pelatihan
• Monitoring-evaluasi
• Pembuatan laporan
• Webinar
Penelitian terdahulu, 2018
Tren Pemberitaan Situasi Kekerasan di Universitas 2018-2023
Strategi Ketangguhan Kampus, 2023
Forum Community Score Card melibatkan 15 universitas/fakultas dan 11 lembaga kemahasiswaan, dengan output berupa 1 Dokumen Hasil CSC yang berisi analisis efektivitas dan kualitas layanan kampus serta lembaga kemahasiswaan dalam penanggulangan kekerasan.
Forum Participatory Action Research (PAR) melibatkan 13 universitas/fakultas dan 21 lembaga kemahasiswaan, dengan output berupa 1 Dokumen Hasil PAR ditambah 1 Forum Kampus Tangguh.
Forum Lokalatih (Workshop) melibatkan 4 universitas/fakultas dan 31 lembaga kemahasiswaan.
Pemahaman peserta tentang definisi, unsur, dan tahapan konflik identitas meningkat signifikan setelah forum — misalnya pemahaman tahapan terjadinya konflik identitas naik dari 38,5% menjadi 76,9%, dan pemahaman cara resolusi konflik identitas naik dari 38,5% menjadi 77%.
"Setiap detik atau setiap menit saya berada di forum ini mendengar pendapat, ternyata masih banyak pendapat yang belum saya tahu. Di samping intelektual dan hal-hal yang baku, mungkin kita butuh pendekatan emosional. Kita tidak hanya fokus menegakkan aturan, membuat pagar, tetapi bagaimana kita bisa bekerja sama. Menurut saya forum-forum seperti ini untuk kita bersama dan kampus yang lebih tangguh." -Emha Ismaulidin, BEM FMIPA UH
Pemahaman peserta terhadap prinsip, kriteria, dan cara penerapan disiplin positif dalam pengaderan organisasi naik tajam misalnya pemahaman cara penerapan disiplin positif dalam pengaderan naik dari 30,8% menjadi 92,3%.
"Kita tidak bisa langsung mediasi tanpa mengobati akarnya. Dari positive discipline, [saya] ingin mengimplementasikan cara-cara memperkuat hal-hal positif dari organisasi, walaupun berbeda dengan yang diinginkan senior. Harusnya pengkaderan menyasar penciptaan mahasiswa yang kuat akademiknya, bukan untuk berkelahi." -Ahmad Aufa, BPH Kemajik FIKP UH
Pemahaman tentang definisi dan nilai-nilai damai naik dari kisaran 69–85% menjadi lebih dari 92% setelah forum.
"Proses mengubah budaya memang proses jangka panjang. Namun, proses ini jauh lebih berkelanjutan daripada intervensi secara struktural, misalnya lewat aturan, SOP. Apa yang teman-teman lakukan di Kampus Tangguh menunjukkan bahwa kita bisa melakukan sesuatu, dan apa yang kita lakukan memang masih sangat awal. Ada kepercayaan diri kita bisa melakukan jauh lebih besar ke depan." -Dosen FISIP, Sekretaris CPCD Unhas
25 lembaga kemahasiswaan (termasuk UKM dan Forum) terlibat, dengan 12 lembaga mengirimkan perwakilan ke dua rangkaian kegiatan dan 2 lembaga hadir di seluruh rangkaian kegiatan. Observasi forum menunjukkan partisipan saling bertanya, berkolaborasi merumuskan ide kampus anti-kekerasan, dan saling menghargai pendapat lintas lembaga.
"Berkat Kampus Tangguh aku jadi berteman dengan anggota organisasi lain, kita paham kita punya masalah yang sama."
-Adelia Beatrich, UKM Basket Unhas / Mahasiswa Fakultas Kehutanan
Therry Alghifary—Direktur KITA Bhinneka Tunggal Ika
Dr. Ichlas Nanang Afandi—Dosen Psikologi Universitas Hasanuddin
Konflik Identitas Dalam Kekerasan Mahasiswa
Therry Alghifary mengkaji kekerasan tawuran dan pengaderan yang terjadi di universitas dengan dua dimensi kebudayaan Geert Hofstede, seorang psikolog sosial, yakni budaya kolektif dan individualis. Berdasarkan penelitian Hofstede, Indonesia memiliki budaya kolektif yang tinggi. Salah satu manifestasi budaya kolektif adalah pengaruh kedudukan dalam masyarakat (power distance), yang menurun pada perilaku seperti menghormati orang yang lebih tua, memprioritaskan keluarga. Bahkan makna keluarga sendiri meluas, tidak hanya keluarga inti, tetapi juga termasuk anggota organisasi yang sama. Misalnya mahasiswa yang berasal dari daerah yang sama dan masuk ke dalam organda sudah dianggap sebagai keluarga.
Bagaimana budaya kolektif yang tinggi berkontribusi terhadap konflik kekerasan antar kelompok mahasiswa? Konflik berawal dari ketersinggungan atribut identitas kelompok. Misalnya jika terjadi sesuatu pada satu anggota kelompok, tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga seluruh kelompok. Tawuran mahasiswa kerap berawal dari konflik perorangan yang penyelesaiannya melibatkan keterlibatan seluruh kelompok. Atribut lainnya seperti area organisasi di kampus. Jika ada pihak lain yang masuk ke wilayah organisasi tertentu dianggap memantik keributan dan bisa berujung konflik antar kelompok. Pada kasus-kasus seperti ini masalahnya bukan lagi ada pada perseorangan, tetapi pada identitas kolektif.
Dari perspektif ini, solusinya adalah membangun nilai kekitaan (we-ness), tidak menonjolkan identitas kelompok atau individu, melainkan fokus pada identitas bersama yang menyatukan semua keberagaman tersebut.
Kekerasan dari Kacamata Psikologi
Dr. Ichlas Nanang Afandi menguatkan perspektif tentang identitas dan konflik dari kacamata psikologi. Pada dasarnya, manusia akan lebih berani atau agresif saat berada dalam kelompok sehingga akan lebih banyak konflik yang muncul. Saat berada di dalam kelompok, seseorang akan memfavoritkan kelompoknya secara naluriah (in-group favouritism) dan memiliki bias terhadap orang-orang di luar kelompok (outgroup). Dikotomi inilah yang kemudian menjadi identitas. Dari kacamata realistic conflict theory, kelompok-kelompok mahasiswa di dalam kampus juga rentan mengalami konflik karena adanya sesuatu yang nyata diperebutkan oleh pihak yang berselisih, terutama akibat keterbatasan sumber daya baik berwujud maupun tidak berwujud (seperti kekuasaan, status sosial). Teknologi dan perputaran informasi yang cepat, penyebaran informasi hoaks, bisa berpotensi memicu sikap agresif dan kecurigaan antar kelompok.
Dosen Psikologi Universitas Hasanuddin ini kemudian menawarkan beberapa resolusi. Secara individu, setiap orang perlu memiliki kontrol diri yang baik dan kemampuan komunikasi. Dari sisi relasional, kita perlu merekategorisasi atau mengubah perspektif dari 'kami' menjadi 'kita'. Memiliki tujuan bersama juga menjadi penting untuk menyatukan keberagaman antar kelompok.
Kritis Atas Tradisi Saat Ini
Profesor Halilintar memberikan konteks politik, ekonomi, budaya atas fenomena kekerasan yang terjadi terhadap mahasiswa di universitas. Secara reformasi, banyak praktik intervensi yang dilakukan terhadap mahasiswa, seperti aktivitas yang difokuskan pada pendanaan. Secara budaya, pengaderan juga bisa dikaji kembali terkait alasan dan tujuan mengapa aktivitas tersebut dilakukan.
Budayawan Sulawesi Selatan ini kemudian menawarkan beberapa solusi seperti, membuat serambi kampus, menghidupkan kembali kolaborasi antarkampus dan pejabat luar kampus, dan mengaktifkan kembali mimbar bebas.
Profesor Halilintar Lathief
Catatan Kaki:
*Program Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) The Habibie Center. (2015). Indeks Intensitas Kekekrasan 2015, Jakarta: SNPK-THC 2014
**Anatomi Kekerasan Mahasiswa di Kota Makassar. Jurnal Review Politik Volume 03. No. 01, Juni 2013. Surabaya: Universitas Airlangga Surabaya