Catatan Temu Awal Tahun Pegiat Aliansi Perdamaian
Di tengah riuhnya dinamika sosial di Indonesia, sebuah ruang perjumpaan hangat tercipta melalui Temu Awal Tahun Pegiat Aliansi Perdamaian. Mengusung tema besar "Suarakan Damai, Nyatakan Aksi", forum ini menjadi titik temu bagi 26 organisasi lintas komunitas di Sulawesi Selatan dan 61 orang peserta yang hadir secara luring dan daring dari beragam daerah. Pertemuan ini menunjukkan kehendak anak-anak muda dan pegiat perdamaian memilih untuk terus bergerak merespons tantangan, alih-alih diam dan mengutuki masalah.
Aliansi Perdamaian terbentuk sejak 2018 dan terus menghimpun kolaborasi untuk menguatkan ekosistem damai di masyarakat. Vassilisa A., koordinator United for Peace 2025, membuka diskusi dengan potret realitas yang cukup menantang saat ini: mulai dari krisis lingkungan, konflik sosial, hingga bayang-bayang terorisme. Namun, di balik tantangan tersebut, optimisme hadir dari meningkatnya inisiatif dan partisipasi anak muda. Sepanjang tahun 2025, berbagai kolaborasi konkret telah dipijakkan, seperti Peace and Leadership Camp, Jambore Masyarakat Sipil, hingga Peacetival yang berkolaborasi dengan organisasi lokal dan nasional.
Pada kesempatan ini, Pdt. Adrie Octavianus Massie, S.Th, mewakili PGIW Sulselbar dan FKUB Sulsel, menekankan pentingnya merawat perdamaian antar umat beragama adalah langkah integral untuk usaha-usaha perdamaian yang lebih luas. Ia juga menekankan pentingnya peran anak muda yang menjadi benih perdamaian. Sementara itu, Dr. Ir. Yonggris, M.M., Ketua Permabudhi Sulsel dan perwakilan FKUB Sulsel, juga mengingatkan pentingnya menjaga kolaborasi yang berlandaskan pada nilai dan prinsip, agar tidak terjebak pada aktivitas seremonial, juga ikut melakukan aksi yang memengaruhi keputusan strategis. Gagasan lain juga muncul dari perwakilan IJABI, Niar, untuk memperluas kolaborasi hingga ke tingkat nasional bahkan internasional, dan lebih proaktif mengangkat isu kemanusiaan internasional seperti Palestina.
Organisasi yang turut hadir dalam kegiatan ini antara lain: KITA Bhinneka Tunggal Ika, BKP Bela Negara Universitas Hasanuddin, MTs Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo, Pelita Padang, FIK ORNOP, Yayasan Rumah Mama, PGIW Sulselra, PERMABUDHI Makassar, LAPAR Sulsel, Oase Intim, IJABI Sulsel, Rumah Sekolah Cendekia, UKM LKIMB UNM, ISKA, Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan, Masagena Center, Bersama Institute, Peacemakers Indonesia, Solidaritas Perempuan Anging Mammiri, SAPA FARABI, KOADS (Komunitas Orang Tua Anak Down Syndrome), LSKP, Guardians of Peace Community, Aksi Indonesia Muda, Persekutuan Masyarakat Indonesia Timur.
Pada sesi berikutnya, Therry Alghifary, memfasilitasi para pegiat perdamaian untuk merefleksikan praktik baik organisasi/komunitas dan tantangan yang masih dihadapi bersama.
Dalam sesi tersebut, Muhammad Ayyub dari Aksi Indonesia Muda membagikan cerita inspiratif tentang berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti Peace and Leadership Camp dan Konferensi Pemuda Perdamaian mampu menjadi penguat bagi generasi muda dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan nilai perdamaian.
Forum ini juga memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman mengenai berbagai aksi positif yang pernah mereka lakukan.
Misalnya, Sulham dari UIN Alauddin Makassar menceritakan pengalaman menggabungkan kegiatan perdamaian dengan festival keberagaman yang melibatkan Unit Kegiatan Mahasiswa. Risdayanti dari IJJ dan Raisa Bela Negara juga menyampaikan kegiatan nyata seperti aksi bersih lingkungan, penanaman mangrove, sosialisasi anti tawuran di kalangan pemuda, serta pendampingan mahasiswa dalam program bela negara.
Sementara itu, Muh. Agus Rauf dari Aksi Indonesia Muda mengangkat isu sosial terkait stigma terhadap penyandang penyakit kusta. Melalui kampanye sosial dan cerita inspiratif, komunitasnya berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa penyakit tersebut tidak selalu menular serta pentingnya menghilangkan diskriminasi terhadap para penyintas.
Pengalaman lain juga dibagikan oleh Eghy Melinda yang pernah menjalani program KKN di Kabupaten Sidrap. Ia menceritakan bagaimana masyarakat desa menerima dirinya dengan sangat baik meskipun ia menjadi satu-satunya anggota beragama Kristen di lingkungan tersebut. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai toleransi dan kebersamaan masih kuat hidup di tengah masyarakat.
Forum ini juga menjadi wadah bagi para mahasiswa dan aktivis untuk menyuarakan kegelisahan mereka terhadap isu-isu krusial di Makassar dan sekitarnya. Suara-suara lantang bermunculan mengenai: maraknya kasus perundungan (bullying) di sekolah hingga kekerasan seksual yang membutuhkan penanganan serius. Isu hak asasi manusia, seperti penggusuran pedagang kaki lima dan nasib anak jalanan di kota Makassar yang masih minim perhatian pemerintah. Perlindungan masyarakat adat, kelestarian alam di Pulau Lae-lae, hingga akses kesehatan (BPJS) yang belum merata.
Langkah Strategis Gerakan Berikutnya
Diskusi ini menjadi refleksi penting bahwa upaya membangun perdamaian tidak hanya berhenti pada kegiatan simbolik, tetapi harus diikuti dengan tindakan nyata untuk menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat. Pada sesi akhir, para peserta memberikan saran strategis bagi pengembangan Aliansi Perdamaian berikutnya.
Penguatan Literasi & Advokasi: Edukasi mengenai aturan hukum, utamanya aturan termutakhir yang berpengaruh dalam aktivitas penyampaian aspirasi agar aksi anak-anak muda tetap sejalan dengan koridor hukum yang berlaku.
Inklusivitas Tanpa Batas: Memperkuat perlindungan anak, merangkul kelompok minoritas beragama, serta membiasakan interaksi yang inklusif dengan rekan-rekan disabilitas, juga melibatkan masyarakat adat dengan cara yang tepat untuk mengedepankan kesetaraan dalam kolaborasi.
Kolaborasi Multisektor. Untuk membangun ekosistem yang tangguh, tidak cukup hanya mengandalkan satu sektor saja. Kolaborasi harus dibangun bersama organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan juga swasta. Dalam pertemuan ini juga ditekankan untuk melibatkan pemerintah sebagai langkah strategis merawat dan memperluas gerakan.
Adaptasi Digital: Memaksimalkan publikasi dan memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pesan perdamaian.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa upaya membangun Indonesia yang damai dan inklusif adalah lari maraton, bukan sprint. Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, Aliansi Perdamaian berharap kolaborasi ini terus meluas hingga ke institusi pendidikan dan komunitas lintas budaya, mengubah dialog menjadi aksi, dan harapan menjadi kenyataan.