Dian Aditya Ning Lestari adalah seorang warga Makassar yang peduli akan perdamaian, mulai dari diri sendiri, hingga lingkungannya. Hal ini ditunjukkan Dian dengan bersahabat erat dengan teman-teman non-Muslim dan tidak ragu mengucapkan “Selamat Natal” pada mereka di tengah kebencian mereka yang tidak suka jika itu dilakukan. Dian mampu berdebat membela Israel jika diperlukan dan dapat melihat sesuatu dari sisi lain. Dian memiliki seorang sahabat non-muslim dan bertekad agar hidup mereka selalu aman dan keluarganya terjaga, termasuk berdirinya gereja tempat mereka beribadah. Tugas seorang pemimpin muslim menjaga rumah ibadah dan rasa aman bagi non-muslim kepercayaan Dian.
Oleh: Dian Aditya Ning Lestari
Do you know that I respect you a lot?Only you, I love you, like you’re my favorite thing on earth. I only want to be with you, I’d trade everything for you. But the world is against us. To you. Who love politics. For you and I build on the same idealism, of your likeness to politics, and your likeness to the series of F.R.I.E.N.D.S I’d cover you, Too many of you, Is a part of me.We are in sync. Of you and I. What will we do to this nation? Integrity is very important. I would only ever share it with you, my plans, I would only ever share it with you, people important to me.
Oleh: Dian Aditya Ning Lestari
Who are you? Siapa dirimu? Banyak orang mencari jati dirinya hingga sekarang. 1000 organisasi, kamu ikuti. Namun siapa dirimu? Perjalanan menuju kesempurnaan ternyata sangat jauh. Kesepian, siapa orang-orang ini, mengapa mereka tidak memahamiku lagi? Aku berkembang, tanpa komunitasku, begitu kami kembali, mereka berkata, kenapa kamu jadi begini?
Oleh: Dian Aditya Ning Lestari
Siapakah pelakunya, jika kamu suatu hari menjadi pelaku, apakah akan mau mengaku? Integritas bukan hal yang bisa di miliki semua orang, jika semua orang memiliki integritas, apakah kita semua akan bebas dari neraka bernama ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan antara mereka....
Oleh: MDian Aditya Ning Lestari
Tidak ada yang sepanjang sungai perjalanan, di mana perjalananmu hanya ingin melihatmu. Aku ingin melihatmu makan, ingin melihatmu sehat, membela perdamaian bersamamu, hingga ayahku tenang. Kau, yang mengajarkanku apa itu cinta, menembus batas, dalam getaran yang begitu mikro, menembus waktu agar dapat kukatakan padamu, aku mencintaimu. Dalam waktu yang tak pernah memaafkan kita...