Saya Ahmad Marzuki Muhlis atau orang-orang lebih mengenal dengan sapaan Uki, saya adalah putra asli suku mandar yang lebih tepat dari Kota Majene Provinsi Sulawesi Barat. Sejak 2013 saya merantau ke Kota Makassar demi melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas Negeri. Aktifitas keseharian saya saat ini adalah bekerja di salah satu startup lingkungan serta aktif dalam beberapa komunitas. Disela-sela kesibukan saya bekerja dan juga menjadi anggota dalam komunitas, saya juga turun menginisiasi lahirnya 2 komunitas yaitu Sibaliparriq dan juga Lentera Senja Indonesia.
Banyak hal yang saya dapatkan dalam mengikuti program GoP#6. Saya seolah mendapat keluarga baru, teman-teman saling respect satu sama yang lain dan saling mengapresiasi. Budaya kelas yang merupakan koridor utama dalam mengatur jalannya proses belajar menjadikan ruang belajar sungguh begitu keren dan mengesankan. Ditambah lagi materi-materi yang diberikan merupakan materi penguatan, yang jujur saya baru dapati ditempat ini. Banyak rumus hidup yang sangat relateble dengan keseharian kita. Saya sekarang lebih banyak menghadirkan perspektif dalam pengambilan keputusan, mencoba mengontrol self interest dan masih banyak belajar untuk mengaplikasikan nilai dari materi-materi yang telah diberikan. Terima kasih KITA Bhinneka, terima kasih GoP6....Salah satu keyakinan diri, masuk kedalam lingkungan GoP dan juga belajar disana adalah salah satu keputusan yang sampai saat ini SANGAT BENAR yang saya rasakan, saya juga merasa sangat beruntung tentunya.
Oleh: Ahmad Marzuki Muhlis
Tahun 2025 menjadi titik refleksi tentang makna mencintai dan kesiapan diri. Setelah lama menutup diri, muncul kesadaran bahwa visi hidup membutuhkan rekan untuk dijalani bersama. Namun, ketika mulai membuka hati, perasaan berkembang terlalu jauh hingga melampaui batas yang sehat. Dari proses refleksi, disadari bahwa diri belum sepenuhnya siap—baik dalam kepercayaan, kesiapan emosional, maupun kejelasan arah. Hal ini mendorong munculnya pertanyaan mendasar: apakah ini bentuk mencintai yang tepat?
Berangkat dari kesadaran tersebut, diambil keputusan untuk menyudahi hubungan sebagai bentuk menjaga diri dan tidak mendzolimi orang lain, sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan. Pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa nilai dan prinsip hidup tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diuji dalam situasi nyata—dan keberanian untuk memilih yang benar, meski sulit, adalah bagian dari proses mencintai dengan tepat.