Mencintai dengan Tepat!
oleh Ahmad Marzuki Muhlis
Mencintai dengan Tepat!
oleh Ahmad Marzuki Muhlis
2025 menjadi tahun yang memberikan pelajaran untuk terus menguatkan prinsip dan nilai mencintai.
Memahami akan hal itu, kerasnya hati ini mulai untuk sedikit dilenturkan, tembok yang tadinya tinggi dan kokoh lambat laun ku rendahkan dan kuberikan celah untuk orang lain dapat mengisinya. Namun yang terjadi adalah perasaan yang tidak bisa dikendalikan, keinginan untuk terus bertemu, terus terhubung dan berbagi cerita menjadi indikasi ketidaksehatan yang hadir. Bahkan harus mengusahakan ruang pertemuan yang dapat dikatakan cukup nekat, menempuh jarak ribuan kilometer antar pulau.
Saya sadar bahwa ketika menjatuhkan rasa, bentuk pembuktian yang maksimal akan terus diupayakan.
Saat yang sama, saya terus berefleksi dan coba untuk mengingat kembali nilai yang saya yakini tentang mencintai, apakah memang benar harus seperti ini?. Bentuk refleksi yang kuat juga hadir dalam mempertanyakan apakah ini sudah diwaktu yang tepat di kesiapan yang tepat juga. Ternyata jawabannya adalah tidak, banyak hal yang belum selesai dengan proses diri. Kepercayaan kepada orang lain dan benar-benar membayangkan akan hidup dengan orang lain menjadi catatan yang juga belum menemui kata siap. Dari beberapa hasil refleksi itulah menjadi dasar yang kuat untuk saya mengambil sebuah keputusan. Saya menemukan 2 alasan untuk mengunci keputusan itu sudah tepat, pertama keputusan itu tidak mendzolimi orang lain dan yang kedua keputusan itu membawa saya semakin dekat dengan Tuhan.
Keputusan untuk menyudahi semuanya menjadi bukti bahwa ada dering hati yang harus kujawab, kegelisahan melakukan itu menjadi alarm kalau usaha yang dilakukan ini bukan bentuk cinta yang sebenarnya, namun bahkan sebaliknya. Nilai dari prinsip Cinta terkait visi yang jelas, dapat mengendalikan harapan dan kekhawatiran serta keberanian dalam proses yang sedang saya ikhtiarkan ini memang muncul, namun yang secara sadar butuh untuk dipertanyakan adalah poin “Mencintai dengan Tepat”, Apakah yang saya lakukan ini adalah bentuk mengikhtiarkan cinta dengan tahapan yang tepat dan dengan cara-cara yang positif?. Nampaknya tidak.
Dengan kesadaran itu, saya memutuskan untuk menyudahi, kembali fokus pada menguatkan prinsip dan value personal.
Kadang kita harus mundur, bukan untuk menyerah, tapi untuk menyusun diri dengan lebih utuh.
Dari sana saya belajar lagi, mau bagaimanapun materi dan konsep yang sudah didapatkan dan dipelajari bahkan bertahun-tahun, semuanya butuh diuji, dan ujian yang sebenarnya dari sebuah prinsip dan value adalah saat kita sedang ada pada pilihan mau terus tergenang di kondisi yang mungkin keliru, atau menjawab dering hati dan berani mengambil keputusan untuk keluar dan menyudahi.
Ujian terbesar dari prinsip bukan saat kita tahu, tapi saat kita harus memilih.