Mudrikah, anak bungsu dari 5 bersaudara yang terlahir di Masamba Kab. Luwu Utara, besar dan tumbuh di kota tersebut. Tahun 2010 bertekad untuk meninggalkan kampung halaman dan kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar dengan harapan mampu membanggakan orang tua dan mendapatkan pekerjaan yang layak agar kelak Ibu (Nurdiana) bisa menikmati hari tuanya tanpa harus berpikir banyak hal mengenai kecukupan gizi anaknya di hari esok.
Menjalani pendidikan di kampung orang lain jelaslah tidak mudah, mengandalkan teman organisasi menjadi solusi satu-satunya agar hidup bisa sedikit lebih mudah di tanah rantau. Saya cukup beruntung karena bisa di tampung di Asrama Putri Pemilar sehingga urusan biaya kosan menjadi sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, urusan makan sehari-hari organisasi menjadi solusi termudah.
Rumah Nalar (Sekertariat LPM Penalaran UNM) menjadi kampus kedua bagi saya, belajar berorganisasi dan penelitian semuanya sudah sepaket di rumah ini. Selama kuliah saya cukup beruntung karena mendapatkan beasiswa PPA/BBM, sehingga persoalan SPP tidaklah menjadi hal yang perlu saya khawatirkan, kebutuhan biaya sehari-hari saya masih mengandalakan ibu dan juga memanfaatkan insentif dari lomba, yang pada akhirnya mengantarkan saya menjadi Runner Up Mahasiswa Berprestasi UNM di tahun 2013, dan pada akhirnya saya menyelesaikan studi saya di tahun 2014 dan kemudian mencoba mengaplikasikan ilmu yang saya sudah dapatkan saat kuliah dulu di Bosowa School Makassar sebagai seorang konselor yang saya jalani hingga saat ini.
Pemimpin yang Bebas Kepentingan
Oleh: Mudrikah
Mengenali potensi kepemimpinan, mengidentifikasi ketulusan dan menumbuhkan rasa percaya adalah roleplay seorang pemimpin. Setelah mempelajari kepemimpinan Jonathan Seagull pada postingan sebelumnya, tugas selanjutnya adalah mengenali bagaiman pemimpin itu seharusnya.
Oleh: Mudrikah
Melanjutkan postingan sebelumnya, Hakuna Matata merupakan rangkaian terakhir dari setiap refleksi yang di lakukaan saat outdoor training. E+R=O adalah sebuah rumus yang memiliki arti yang sangat mendalam, rumus ini hadir untuk memberikan nilai dari setiap kejadian atau Event dan menilai upaya-upaya yang dilakukan melalui responses.
Oleh: Mudrikah
Dis-respect merupakan salah satu problematika bersosialisasi yang kerap kali menimbulkan berbagai prasangka dan ketidaknyamanan pada lingkup social kita. Pada pertemuan Peace Leader Class kali ini, respect menjadi tema besar materi yang dibahas, mulai dari berbagi cerita mengenai dis-respect. Saya mencoba membagikan satu cerita yang saya anggap sesuai.
Oleh: Mudrikah
Materi ke 7 sesi 1 Peace Leadership Class untuk asupan jiwa dan kepala para Guardian Of Peace Kita Bhinneka Tunggal Ika, judul besarnya dalah DO YOU NOW YOUR DREAM?, pertanyaan yang mudah mungkin untuk dijawab saat kita masih SD namun seiring usia bertambah kita memilih untuk tidak lagi bermimpi, dengan anggapan bahwa saya ikhlas dengan semua takdir saya.
Oleh: Mudrikah
Dalam proses menemukan “why” seperti postingan sebelumnya bahwa dalam proses menemukan “why-nya kita” tentu bukan persoalan mudah, jalan yang dilalui tentu cukup dinamis dan bisa saja menghadirkan kekosongan dan ketidakdamaian. Dalam proses ini perlu disadari kita sedang melakukan apa dan akan menargetkan apa, sebab kesadaran inilah yang akan menumbuhkan “aware”nya kita dalam menyikapi setiap pesan-pesan tuhan yang datang. Dalam proses menemukan apa biasanya kita akan terjebak dalam ruang-ruang ambisi pribadi “saya mau jadi”.
Oleh: Mudrikah
Sebelum kita jauh melangkah membahas Mengenai konflik, sebelumnya mari kita sedikit beRcerita mengenai kedamaian. Damai itu menurut saya priibadi adalah kondisi dimana kita bisa hidup dengan penuh rasa keadilan atas hak-hak kita yang terpenuhi, kebayangkan yah, kondisi saat ini dimana kita selalu merasa ini dan itu, namun ternyata kedamaian yang saya maksudkan ini adalah kedamaian yang mustahil untuk di penuhi sebab factor-faktor yang mempengaruhi.
Oleh: Mudrikah
Apa yang membedakan jiwa satu individu dengan individu lainnya? Materi kali ini dimulai dengan pertanyaan yang sepert ini, bagaiman kita bisa tau ini jiwanya si A dan ini jiwanya Saya. Sebelum menjawab pertanyaan tadi, perlu disadari bahwa jiwa itu terikat oleh raga,ibarat sebuah kendaraan raga menjadi kendaraannya sedangkan jiwa menjadi pengendaranya, karena jiwa terikat dengan raga maka salah satu cara untuk membedakan jiwa satu dan lainnya adalah melalui ciri penampkannya, hal pertama saat kelahiran jiwa di dalam raga adalah dengan diberinya ia sebuah nama yang menjadi penanda dirinya, selain itu jiwa ternyata bertumbuh dan berkembang seiring dengan pengalaman.
Dialektika Perang dan Perdamaian Abadi
Oleh: Mudrikah
Kelas PLC kali ini akan menyinggung perihal peperangan dengan mnggunakan sudut pandang sederhana dalam memaknai sebuah kejaidaian besar yang membawa manusia berada pada titik terendah untuk kemudian menemukan mekanisme baru untuk mencegah pengulangan kejadian di masa lalu dan kemudian bangkit melebihi dari kapasitas yang dilalui sebelumnya. Sebelum berangkat ke penjalasan yang lain, mari kita sejenak berfikir, Perang Baik atau Burukkah?
Oleh: Mudrikah
Resilience atau ketahanan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan kita, kemampuan bertahan dengan mekanisme hidup yang lebih berat dan meningkatkan ketahanan diri dalam melewati fase yang lebih berat dan mampu melampauinya adalah bentuk kemampuan resiliensi seseorang. Sebelum jauh memahami tentang resiliensi pertanyaan yang paling.
Family, Community and Social Resilience
Oleh: Mudrikah
Dalam setiap tahapan perkembangan diri menuju pribadi yang lebih baik, tentu aka nada banyak pertenttangan yang dihadapi. Pertentangan yang paling pertama adalah pertentangan pada diri sendiri, kemudian akan berkembang merambah ranah keluarga kemudian ke lingkungan social.
Oleh: Mudrikah
Kelas PLC kali ini dimulai dengan bercerita tentang film yang mewakili makna cinta, sontak yang terfikirkan adalah film Bollywood yaitu Kabhi Kushi Kabhi Gham. Film ini banyak bercerita tentang cinta bagaiman cinya bisa menguatkan juga bisa menghancurkan, karena cinta sepasang muda mudi menyatu, karena cinta sebuah keluarga menjadi hancur. Dalam sebuah hubungan cinta itu harus.....