Nama saya Afandi A., dan selama hampir empat tahun terakhir mengabdikan diri di Pondok Pesantren tempat saya dulu mengenyam pendidikan selama enam tahun. Pondok Pesantren adalah sebuah sistem pendidikan khas Nusantara dengan model penanaman karakter kesederhanaan, akhlak mulia dan disiplin yang kental. Sebelumnya, saya menyelesaikan Studi S1 saya di UIN Walisongo Semarang program studi Ilmu Falak Fakultas Syari’ah dan Hukum. Selama masa perkuliahan, saya aktif sebagai pengurus di beberapa organisasi yang menjadi wadah bagi saya dalam pengembangan diri.
Setelah menyelesaikan studi S1, saya mengabdi di Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo, salah satu Pondok Pesantren yang terletak di Desa Kotarindau Kec. Dolo Kab. Sigi, Sulawesi Tengah. Pada Juni 2021, saya ditarik menjadi Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sigi sebagai Ketua Komisi Informatika dan Komunikasi. Tugas ini kemudian membawa saya berjibaku dengan tokoh-tokoh pemuka Agama yang berasal dari berbagai daerah yang ada di Kabupaten Sigi. Saya bisa melihat secara langsung bagaiman peran dan tugas tokoh-tokoh ini dalam membina dan mengarahkan serta menyelesaikan permasalahan-permasalahan keagamaan yang terjadi diakar rumput, termasuk beberapa konflik agama dan isu-isu perseteruan yang kerap terdengar dari beberapa daerah di Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Sigi. Hal ini kemudian memberikan perspektif-perspektif baru bagi saya dalam membantu permasalahan umat.
Sulawesi Tengah diperkirakan memiliki sekitar 15 hingga 20 suku. Sebaran etnis yang banyak ini, menjadikan Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah yang rawan konflik. Sepanjang sejarah konflik Sulawesi Tengah, tragedi Poso (1998-2007) adalah salah satu yang paling memilukan. Pada umumnya konflik-konflik ini terjadi memang akibat ketegangan antar agama dan etnis. Konflik lain misalnya, seperti konflik Luwuk (2010). Konflik ini melibatkan benturan antara komunitas Muslim dan Kristen di daerah Luwuk, yang terletak di bagian utara Sulawesi Tengah. Rentetan konflik-konflik ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pemeliharaan perdamaian, terutama dalam menjaga hubungan harmonis antaragama dan etnis di daerah yang kaya akan keragaman ini.
Kabupaten Sigi pun demikian, November 2020 misalnya, terjadi serangan tragis di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Ali Kalora. Pada pertengahan 2023 misalnya terjadi pertikaian di Desa Tinggede yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik antarwarga. Tidak berhenti sampai disitu, pada Pada Oktober 2024, bentrokan terjadi antara warga Desa Rarampadende dan Desa Pesaku.
Pada dasarnya, peran MUI di Kabupaten Sigi menjadi sangat penting, MUI menjadi salah satu mitra strategis Pemerintah Kabupaten Sigi dalam membendung upaya-upaya konflik Masyarakat. Saya berpendapat bahwa, konflik-konflik diatas umumnya terjadi diakibatkan oleh minimnya pemahaman moderasi beragama dan apatisnya Masyarakat terhadap pendidikan agama sejak dini. Olehnya, diperlukan orang yang mampu mengidentifikasi akar permasalahan kasus-kasus tersebut juga dapat menentukan solusi yang ideal. Hingga kemudian, sinergitas MUI dan Pemerintah dapat membentuk regulasi yang bertujuan sebagai Langkah preventif terhadap kasus-kasus yang serupa.
Olehnya, saya merasa harus ikut ambil bagian dalam peran ini. Saat ini saya sedang mendaftar Beasiswa S2 LPDP di UGM Jogjakarta dengan jurusan Studi Lintas Budaya dan Agama, tentu mengikuti fellowship ini adalah bagian penting dalam menambah cakrawala saya jika kemudian saya diterima sebagai salah satu peserta Guardian of Peace X.
Saya beralamat di Pesantren Ekonomi Darul Ukhwah, Jakarta Barat, tepatnya di Kedoya Selatan, Kec. Kebonjeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Saya tinggal di lingkungan pesantren ini terhitung sejak saya masih aktif mengenyam bangku perkuliahan, tepatnya mulai dari tahun 2019.
Saya memiliki kegemaran travelling dan menulis. Atas kegemaran ini, mengantarkan saya untuk lebih mengkaji dunia jurnalistik. Alhasil saya pernah mendapatkan ilmu kepenulisaan jurnalistik ketika saya sedang magang di Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) dan WartaPesona.com. Tidak hanya itu saja, saya juga pernah menjalani magang sebagai desain grafis di Rakyat Merdeka.
Lain hal itu, saya memiliki ketertarikan terhadap isu dan kajian tentang Hak Asasi Manusia, Moderasi dalam Toleransi Beragama, dan Lingkungan. Atas ketertarikan itu mengantarkan saya untuk aktif dalam berbagai kegiatan yang memiliki hubungan korelasi dengan tema tersebut. Salahsatunya dalam bidang toleransi beragama, saya pernah mengikuti kegiatan Tanah Air itu Bhinneka (TAB) yang diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja Indonesia (PGI).
Motto saya terinspirasi dalam bunyi hadits yang diajarkan dalam agama saya yang berbunyi “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” dan seperti yang disampaikan oleh presiden ke-3 RI B.J.Habibie, “Jadi mata air untuk penghidupan sekitar”. Dari 2 motto tersebut menjadikan saya termotivasi untuk terus menebar kebaikan untuk sesama.