Menemukan Mengapa untuk Menjadi Apa
oleh Awadh Al-Karim
Menemukan Mengapa untuk Menjadi Apa
oleh Awadh Al-Karim
Anak-anak bila ditanya mimpi saat kecil biasanya mimpi yang diutarakan penuh dengan kesederhanaan, ketulusan, dan kejujuran. Boleh dikata, saat masih kecil dulu mimpi yang diutarakan tampaknya sangat menggugah dan penuh dengan gairah. Hal ini saya lihat dari cerita Kak Therry saat sesi Discover Your Dream. Ketika itu Kak Therry bertemu dengan seseorang anak kecil di Bengkalis yang membuatnya tersadar mengenai potensi seorang anak dan ketulusan untuk bermimpi. Hal itu ia temukan saat puisi yang diciptakan oleh anak itu membuatnya ragu apakah itu hasil menjiplak atau bukan. Dari interaksi itulah ketika ia menemukan kejujuran anak itu, ia mampu merefleksikan pentingnya menemukan asal mimpi seseorang itu bertumbuh. Anak itu ingin membuat kapal selam pertama buatan bangsa, meniru Pak B.J Habibie yang mampu membuat pesawat terbag pertama buatan anak bangsa.
Jadi, apa hubungan bermimpi dengan konsep Peacebuilding?
Perlu digarisbawahi bahwa konflik dan kekerasan itu tumbuh dari permasalahan masa lalu yang tidak tuntas. Ketika seseorang ingin membangun sebuah mimpi dan masa depan yang gemilang, masa lalu turut berpengaruh untuk mewujudkannya bahkan dalam membangun pondasinya. Seleksi yang pasti selalu ada dalam mendapatkan beasiswa misalnya esai atau wawancara, pasti akan diberikan mengenai pertanyaan atau masalah apa yang ingin diselesaikan dengan melanjutkan studi. Di sisi lain, dalam masalah mencari pekerjaan simpelnya didasari oleh tujuan ingin berpenghasilan hingga mampu menafkahi tanggungannya. Menuju hidup layak itulah sebenarnya perdamaian yang kita tuju.
Orang-orang terkadang salah kaprah mengenai hidup layak dengan terwujudnya sebuah mimpi. Ketika membahas mimpi, orang-orang akan langsung terpaku ingin menjadi pilot, dokter, influencer, atau ingin punya banyak uang. Begitu pun dengan perdamaian, orang-orang ingin langsung konflik selesai dan langsung membayangkan betapa indahnya bila semuanya hidup saling mengerti. Namun bukan berarti mengharapkan hal-hal tadi itu salah.
Masalah yang kadang luput dalam mewujudkan perdamaian dalam tercapainya mimpi adalah “Mengapa?”. Mengapa anda harus menjadi dokter spesialis saraf? Mengapa konflik yang ada di Papua harus diselesaikan? Hal-hal mendasar dari pertanyaan mengapa akan membawa kita pada alasan yang membuat hal yang kita impikan itu dapat bertahan lama (sustain/long lasting) dan bermakna (meaningful).
Titik mencari “Mengapa” menurut saya adalah sesuatu yang gampang-gampang susah. Seperti rutinitas kita sebagai Guardians of Peace, refleksi itu penting. Ketidakhadiran seseorang pada dirinya sendiri rasa-rasanya sulit membawa kita pada refleksi yang bermakna. Ketika kita mencari-cari alasan, mimpi yang suci tidak suci lagi rasanya. Perlu digarisbawahi, bahwa ketidakmurnian/ketidaktulusan dalam bermimpi akan membawa seseorang pada self of interest dan/atau conflict of interest. Ketika motivasi pribadi menguasai seseorang, segala sesuatu kemungkinan akan dihalalkan demi mewujudkannya. Bukan hanya itu, kemungkinan lainnya ialah pondasi mimpinya akan goyah sehingga tujuan besar tidak dapat dicapai.
Jalan seseorang untuk menemukan alasan tampaknya adalah kombinasi dari pengalaman manusia yang beraneka ragam. Dari segi spiritualitas, menemukan mimpi layaknya menemukan amanah Tuhan yang diberikan pada seorang manusia. Hal itu pasti unik dan berbeda antar manusia. Untuk menemukan misi rahasia itu hadirkan kesyukuran dalam hati. Setiap orang memiliki privilese dan keunggulannya masing-masing. Jangan sampai membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain membuat kita lupa tujuan dan keunikan diri. Ketidakadilan justru muncul dari komparasi, ketika kita membeda-bedakan orang atau menyamakannya padahal ada kekhususan tersendiri yang tidak bisa diukur dengan satu perhitungan. Dalam Islam, konsep “Mengapa” ini diberikan “Highlight” melalui Niat.
Hadis mengenai Niat banyak muncul di berbagai pengantar kitab-kitab referensi Keislaman. Bila niat kita dilandasi oleh keyakinan kuat pada Tuhan, misal ingin meraih rida-Nya atau bertemu dengan-Nya, sesuatu yang kita lakukan, apapun itu pasti dinilai sebagai sebuah kebaikan. Bukan hanya ibadah seperti salat dan zakat yang butuh niat seperti itu, tetapi bekerja, bersilaturahmi, bila disandarkan kepada niat karena Allah Swt akan diberikan ganjaran kebaikan berlipat ganda di dunia dan di akhirat. Ibarat bahan bakar sebuah kendaraan, ketika alasan anda yang tercermin dari niat telah tercapai dan habis, apalagi yang bisa menggerakkan anda menghadapi kehidupan berikutnya? Kembali ke awal, jangan mengada-ada dalam merancang mimpi anda, temukan landasan yang kuat yang dapat membawa anda sustain, tidak kehabisan bahan bakar di kemudian hari.
Saat telah menyadari betapa kompleksnya menemukan alasan meraih sesuatu, langkah berikutnya ialah menjawab pertanyaan How/Bagaimana? Pertanyaan mengapa membutuhkan jawaban yang unik, tulus, jujur, dan intrinsik. Akan tetapi, pertanyaan bagaimana ini bisa dijawab dengan apa saja selagi itu selaras dengan niat baik anda. Ketika benihnya baik, mimpi akan tumbuh meluas dan memberikan banyak manfaat bagi siapapun.
Saya ingin membahagiakan orang tua, saya ingin keliling dunia, atau saya ingin banyak uang.
Kita bisa mewujudkan itu mungkin sesimpel memulai mencuci piring di rumah, berjalan kaki, belajar, atau membangun kompetensi diri. Bila cara kita merealisasikan bagaimana itu bagus dan konsisten (plus ada keberuntungan), kita bisa menjadi apa saja. “Apa” inilah yang kadang terlalu cepat dipatok orang, alih-alih menemukan panggilan hati menemukan alasan yang mampu membuat kita bisa berjalan tak gentar hingga akhir waktu. Jika anda ingin menemukan mimpi anda, jangan berfokus hanya pada ingin menjadi apa atau siapa. Mulailah dari alasan yang berarti. Menemukan mimpi anda mengarahkan anda membangun damai dalam diri sendiri dan mengupayakan kebaikan bagi semua.
Apa yang memotivasi saya? Apa perubahan yang ingin saya usahakan? Apa yang harus saya pelajari? Siapa yang harus saya bantu?
Mulailah dari Mengapa (Why?), temukan caranya dengan Bagaimana (How?), jadilah anda Apa/Si-apa (What) yang berarti.