TRUST
oleh Arlin
TRUST
oleh Arlin
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata "percaya".
Kita mempercayai teman untuk menjaga rahasia, mempercayai rekan dalam sebuah tim, mempercayai pemimpin untuk menjalankan tanggung jawabnya, bahkan mempercayai orang yang baru kita kenal dalam situasi tertentu.
Namun, apa yang sebenarnya membuat seseorang dipercaya?
Melalui Peace Leadership Class, saya melihat kepercayaan dari sudut pandang yang berbeda. Kepercayaan ternyata bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ada nilai, tindakan, dan pengalaman yang secara perlahan membangun atau justru menguranginya.
Hal tersebut digambarkan melalui sebuah rumus sederhana:
T = C + I + i − SI
Dalam matematika, nilai T akan semakin besar ketika nilai C, I, dan i meningkat, sementara nilai SI semakin kecil.
Competence (C)
Kompetensi adalah kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab dengan baik.
Ketika seseorang menunjukkan kemampuan dan kesungguhannya dalam melakukan tugas, orang lain akan lebih mudah merasa yakin dan mempercayainya. Kompetensi menunjukkan bahwa seseorang mampu melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Integrity (I)
Integritas berbicara tentang keselarasan antara perkataan dan tindakan.
Tidak sedikit orang yang mampu berbicara dengan baik, tetapi kepercayaan justru tumbuh ketika apa yang dikatakan juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Konsistensi inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan.
Intimacy (i)
Kepercayaan juga tumbuh melalui rasa aman.
Ketika seseorang merasa didengar, dihargai, dan diterima tanpa takut dihakimi, hubungan yang terbangun menjadi lebih dekat. Dalam ruang yang aman seperti itulah kepercayaan berkembang.
Self Interest (SI)
Menariknya, dalam rumus ini terdapat satu komponen yang dikurangi, yaitu Self Interest. Semakin besar kepentingan diri sendiri yang ditonjolkan, semakin sulit orang lain mempercayai niat di balik tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, ketika seseorang bertindak dengan ketulusan dan tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri, kepercayaan akan lebih mudah tumbuh.
Salah satu pengalaman yang membuat saya memahami makna trust terjadi selama mengikuti program magang dan Peace Leadership Class.
Pada awalnya, saya termasuk orang yang cukup sulit terbuka, terutama ketika diminta melakukan refleksi atau membagikan pengalaman yang bersifat pribadi. Saya lebih sering memilih untuk menyimpan cerita saya sendiri karena khawatir tidak dipahami atau dinilai oleh orang lain.
Namun seiring berjalannya waktu, saya menemukan sesuatu yang berbeda. Setiap kali seseorang berbagi cerita, peserta lain mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak ada yang menertawakan, menghakimi, atau berusaha menjadikan dirinya pusat perhatian. Sebaliknya, setiap cerita diterima dengan rasa hormat dan apresiasi.
Dari pengalaman sederhana itu, saya mulai berani bercerita tentang hal-hal yang sebelumnya sulit saya ungkapkan. Saya merasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Saat merefleksikan materi Trust, saya menyadari bahwa kepercayaan yang tumbuh tersebut tidak hanya berasal dari kedekatan (intimacy), tetapi juga dari rendahnya self interest. Ketika orang lain hadir dengan ketulusan untuk mendengar, bukan untuk mencari keuntungan atau pengakuan bagi dirinya sendiri, kepercayaan menjadi lebih mudah tumbuh.