Merangkai Titik Perdamaian: Dari Pelatihan Fasilitator Hingga Menginisiasi Ruang Kolaborasi Berkelanjutan
oleh Widzar
Merangkai Titik Perdamaian: Dari Pelatihan Fasilitator Hingga Menginisiasi Ruang Kolaborasi Berkelanjutan
oleh Widzar
Keterlibatan saya dalam Jambore Pelajar Teladan Bangsa (JPTB) sejak tahun 2022 selalu menjadi momen yang memantik semangat keberagaman. Namun, ada satu keresahan yang selalu datang, yaitu, euforia perdamaian sering kali memudar ketika acara tahunan tersebut usai. Saya menyadari ada kebutuhan mendesak untuk merawat nilai kerukunan secara berkelanjutan di keseharian masyarakat. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut, saya sadar bahwa semangat saja tidak cukup. Saya butuh keahlian. Oleh karena itu, saya mencoba mengikuti pelatihan Guardians of Peace untuk menempa diri dan membekali kapasitas saya sebagai seorang fasilitator perdamaian yang mumpuni.
Berbekal ilmu fasilitasi dari program Guardian of Peace, saya mulai mengambil peran lebih aktif dengan turun langsung ke masyarakat melalui program Education for Peace di surabaya. Di sini, saya bertugas untuk mengedukasi dan memfasilitasi masyarakat secara langsung tentang pentingnya nilai-nilai perdamaian.
Momentum puncak transformasi perjalanan kepemimpinan saya terjadi pada tahun 2025 melalui program dari Indika Foundation. saya dihadapkan pada sebuah tantangan untuk merancang dan mengeksekusi sebuah project implementasi. Alih-alih membuat proyek jangka pendek yang selesai begitu saja, saya mensintesiskan seluruh pengalaman-pengalaman perjumpaan di JPTB, keahlian fasilitasi dari Guardian of Peace, dan pengalaman lapangan dari Education for Peace.
Mandat proyek implementasi ini akhirnya saya wujudkan menjadi cikal bakal berdirinya Interfaith Youth Hub (IYH). Melalui IYH, saya mencoba untuk menciptakan ekosistem berkelanjutan di mana anak muda memiliki ruang aman untuk berkolaborasi lintas iman dan merespons isu human security tanpa harus menunggu agenda tahunan.
Dalam merangkai perjalanan dari pelatihan hingga inisiasi komunitas ini, saya sangat bertumpu pada prinsip-prinsip Guardian of Peace, yaitu:
TRUST (Continuous Learning): Perjalanan berjenjang saya dari JPTB, belajar menjadi fasilitator di Guardian of Peace, hingga turun mengedukasi lewat Education for Peace membuktikan komitmen saya untuk terus belajar dan memperluas kapasitas diri.
LOVE (Vision): Saya mendirikan IYH dengan arah yang jelas, yaitu mencoba untuk mengubah energi positif dari sebuah event tahunan menjadi napas pergerakan sehari-hari. Proyek implementasi Indika Foundation saya arahkan untuk mewujudkan visi jangka panjang ini.
NON-VIOLENCE (Creative Resolution): Menjawab masalah "kurangnya ruang kolaborasi berkelanjutan" dengan mendirikan IYH adalah bentuk upaya saya merancang penyelesaian masalah secara kreatif dan sistematis.
KEKITAAN/WE-NESS (Collaborative & Togetherness): IYH lahir dari semangat kolaborasi. Saya merangkul jejaring pemuda yang saya temui selama di JPTB, Indika Foundation, dan program lainnya agar semua pihak merasa terlibat dalam menjaga keberagaman.
RESPONSIBILITY (To be a Better Person): Mengambil tanggung jawab yang terus meningkat, dimulai dari peserta JPTB, menjadi fasilitator, edukator masyarakat, hingga akhirnya menjadi founder IYH, ini merupakan wujud komitmen saya untuk tidak berpuas diri dan terus memberikan dampak yang lebih luas.
Perubahan paling bermakna dalam perjalanan kepemimpinan saya di 2025 adalah transformasi kesadaran bahwa perdamaian harus diupayakan secara terstruktur.
Menjadi fasilitator terlatih membuka mata saya, mengedukasi masyarakat mengasah empati saya, dan mandat dari Indika Foundation memicu keberanian saya untuk mengeksekusi visi nyata. Interfaith Youth Hub adalah bukti bahwa saya tidak lagi sekedar menjadi bagian dari sebuah acara perdamaian, tetapi telah mampu menginisiasi dan merawat ruang perdamaian itu sendiri.