CATATAN PERJALANAN ISTI DI TAHUN 2025
oleh Istianah Purnamasari
CATATAN PERJALANAN ISTI DI TAHUN 2025
oleh Istianah Purnamasari
Halo, Saya Isti. Saya seorang Apoteker dan Juru Bahasa Isyarat yang berkecimpung pada isu pendidikan, perundungan, dan disabilitas. Berikut ringkasan perjalanan saya di tahun 2025 yang coba saya rangkum menjadi cerita yang bisa dibagikan. Bismillah.
Di awal tahun 2025, saya memulai perjalanan kepemimpinan dengan sebuah janji sederhana, yakni menegakkan integritas mulai dari diri sendiri. Saya belajar nilai integritas dari teman-teman di sekitar saya. Awalnya, saya tidak terlalu peduli, lama-kelamaan karena sering terpapar, saya penasaran dengan nilai baik ini. Voila, saya ikut menerapkannya.
Tidak salah pepatah mengatakan, bergaullah dengan penjual parfum maka kamu akan terkena wanginya
Saya memulai dari tertib lalu lintas, tidak melawan arah, menggunakan helm, dan mengaitkan talinya hingga terdengar bunyi ‘klik’. Apakah itu bertahan selama sebulan? Tentu saja tidak. Saya masih dibonceng teman saya tanpa helm, meski di dalam hati saya menegaskan ini perbuatan salah sembari mulut berkomat-kamit memohon perlindungan. Tapi, hal baik harus diupayakan.
Sebagai dosen farmasi dan guru di Madrasah Aliyah, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan teladan yang nyata bagi mahasiswa dan santri saya, agar mereka memiliki sosok pendidik yang bisa mereka teladani. Agak geli-geli ngomongnya, namun tetap harus saya lakukan.
Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah tradisi "tak tertulis" di lingkungan akademik yang sering kali membebani mahasiswa secara finansial. Saya melihat kebiasaan menyediakan konsumsi mewah saat seminar proposal atau memberikan hadiah “mahal” kepada penguji setelah ujian tutup telah menjadi beban mental, terutama bagi mahasiswa menengah ke bawah dan mereka yang merantau jauh dari keluarga. Saya pernah mendapati mahasiswa yang terlambat seminar hasil hanya karena tidak mampu membeli konsumsi seminar, atau mahasiswa yang berupaya menyediakan konsumsi, padahal orang tua mereka di seberang pulau mungkin harus mengirit kebutuhan pokok demi biaya kuliah anaknya. Cetass.
Tradisi yang dianggap biasa, bisa jadi beban bagi yang tidak bersuara.
Di sisi lain, saya melihat mahasiswa farmasi terjebak dalam rutinitas teori dan praktikum yang sangat padat, sehingga mereka jarang memiliki ruang untuk membangun empati terhadap isu sosial, khususnya mengenai disabilitas. Ada sekat yang tebal antara dunia akademik mereka dengan realitas teman-teman disabilitas di masyarakat. Kesenjangan inilah yang memicu kegelisahan saya untuk menjadi pengajar sekaligus menjadi penggerak aksi perdamaian dan inklusivitas yang nyata, melanjutkan perjuangan saya saat masih di sekolah lama membentuk BULLFREEY hingga SAPA FARABI.
Sebagai pendidik, saya mengambil peran untuk memutus rantai beban finansial mahasiswa dengan langkah yang cukup berani di mata dosen lain. Saya kumpulkan mahasiswa bimbingan dan yang saya uji, lalu saya tegaskan dengan suara lantang: "Kalian tidak perlu memberikan Ibu makanan, minuman, apalagi hadiah. Uangnya lebih baik kalian pakai untuk print proposal atau kebutuhan kalian sendiri." Untuk urusan teknis pun, saya meminta mereka membawa draft dalam bentuk cetak jika layar membuat mata saya lelah, namun tetap mengupayakan efisiensi dengan menggunakan kertas bekas atau sisi halaman yang masih kosong demi menghemat biaya.
Di Madrasah Aliyah tempat saya mengabdi, saya melakukan pendekatan serupa untuk membangun hubungan yang murni antara guru dan santri. Saat ada santri yang membawa oleh-oleh dari Tanah Suci seperti kurma atau air zam-zam, saya menerimanya dengan rasa syukur dan menitipkan salam kepada orang tua mereka. Namun, setelah itu saya menyelipkan pesan bahwa mereka punya pilihan untuk tidak memberikan oleh-oleh kepada saya. Saya katakan bahwa cukup doakan ustadzah sehat dan bisa kembali ke Mekkah-Madinah.
Guna memperluas dampak, saya mulai memperkenalkan ragam disabilitas di sela-sela mata kuliah farmasi yang padat. Saya mengajak mahasiswa menjadi relawan sehari untuk merasakan langsung pengalaman berinteraksi dengan teman-teman disabilitas. Dari kelompok kecil mahasiswa yang memiliki minat volunteering ini, saya membentuk SAPA FARABI, sebuah forum suara pemuda yang inklusif. Di sini, kami merangkul mahasiswa lintas jurusan, disabilitas dan non disabilitas untuk berdaya bersama, menciptakan kegiatan pemeriksaan Kesehatan dan pengobatan gratis untuk ragam disabilitas Tuli, Netra, dan Daksa.
Dalam proses perjalanan ini, saya mengupayakan empat nilai utama:
Integrity (Integritas): Saya mulai dari diri sendiri dengan berani menolak pemberian mahasiswa yang sudah jadi tradisi. Saya tidak ingin menjadi bagian dari beban finansial mereka. Meskipun meja saya jadi yang paling sepi dibanding dosen lain, saya merasa tenang karena menjaga marwah sebagai pendidik.
Brave (Berani): Saya mengambil langkah yang mungkin dianggap aneh bahkan menyebalkan oleh rekan sejawat. Saya bicara lantang kepada mahasiswa agar mereka tidak usah memikirkan makanan atau hadiah untuk saya. Saya juga mulai mengajak teman dosen lain untuk tidak membiasakan menerima pemberian yang memberatkan mahasiswa. Alhamdulillah, dalam setahun sudah ada satu dosen yang juga menggunakan prinsip yang sama.
Equal (Setara): Saya ingin semua mahasiswa punya kesempatan yang sama untuk bisa beraktivitas dan mendapatkan pengalaman selain di kampus. Begitupun dengan teman disabilitas yang ingin menjajaki dunia kampus apalagi di bidang Kesehatan bisa mendapatkan kesempatan yang setara dan fasilitas yang memadai. Di SAPA FARABI, kami membuka pintu untuk semua mahasiswa farmasi atau jurusan lain, baik disabilitas maupun non disabilitas yang memiliki minat yang sama untuk bergabung di forum ini.
Togetherness (Kebersamaan): No One left behind. Kami mengupayakan seluruh anggota terlibat dan memaksimalkan peran stakeholder dalam mendukung upaya baik yang kami lakukan.
Pelajaran paling penting yang saya dapatkan adalah bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Saya menyadari bahwa integritas bisa dibangun dari ruang lingkup yang paling dekat. Kepuasan bagi saya adalah saat bisa berbagi dan melihat orang lain juga bertumbuh.
Pada akhirnya, saya belajar bahwa peran pendidik yang paling bermakna adalah menjadi jembatan inklusivitas yang memudahkan jalan bagi siapa pun untuk maju, tanpa ada satu orang pun yang merasa tertinggal hanya karena keterbatasan fisik maupun finansial. Allahumma barik.